#RESET INDONESIA

MENCARI JALAN KELUAR DARI RESIDU LAMA

Di tengah bisingnya distorsi dan kemarahan yang kami tuangkan dalam EP "Residu Orde", kami menyadari bahwa lirik memerlukan landasan fakta yang kuat. Pencarian itu membawa kami pada sebuah karya literatur penting: "#Reset Indonesia: Gagasan Tentang Indonesia Baru"






Bukan Sekadar Membaca, Tapi Mengalami

Buku ini bukan lahir dari balik meja kantor yang nyaman di Jakarta. Ia adalah catatan perjalanan dari Ekspedisi Indonesia Baru—sebuah perjalanan lintas pulau menggunakan sepeda motor yang dilakukan oleh Dandhy Laksono, Farid Gaban, dan tim. Mereka tidak hanya melihat Indonesia dari statistik, tapi dari tanah yang dirampas, air yang tercemar, dan suara warga yang dibungkam.


Mengapa Harus "Reset"?

Istilah Reset dipilih bukan tanpa alasan. Para penulis (lintas generasi dari Boomer hingga Gen Z) membedah bahwa banyak masalah sistemik di negeri ini—seperti krisis air bersih, konflik agraria, hingga dominasi oligarki—adalah hasil dari sistem lama yang gagal tapi terus dipaksakan.

Bagi MOROM, narasi dalam buku ini terasa sangat familiar. Apa yang mereka sebut sebagai kegagalan sistemik adalah apa yang kami sebut sebagai Residu. Sisa-sisa pola pikir dan kekuasaan lama yang masih menghambat lahirnya "Indonesia Baru" yang lebih adil dan sejahtera.



Poin Penting untuk Kita Renungkan:

  • Kedaulatan Lokal: Bagaimana desentralisasi seharusnya memberi kuasa pada rakyat di daerah (seperti di Madiun atau Bandung), bukan hanya memindahkan korupsi dari pusat ke daerah.

  • Keadilan Ekologis: Memahami bahwa kerusakan alam di pelosok Indonesia adalah harga mahal yang dibayar warga demi pertumbuhan ekonomi yang tidak mereka nikmati.

  • Gagasan Indonesia Baru: Buku ini menawarkan imajinasi tentang bagaimana kita bisa menekan tombol reset untuk memulai kembali tatanan yang lebih manusiawi.



Menghubungkan Musik dan Literasi

Kami percaya bahwa musik adalah salah satu cara untuk menyuarakan apa yang menjadi keresahan kami. Jika #Reset Indonesia adalah protes dalam bentuk data dan narasi jurnalisme, maka MOROM adalah protes dalam bentuk frekuensi dan teriakan.


Kita harus lebih peka apa yang sebenarnya terjadi dengan negeri ini. Karena perlawanan yang paling berbahaya bagi mereka adalah perlawanan yang didasari oleh pengetahuan.


Mari membaca, mari melawan, mari meledak.

MOROM | Monarchy of Rhetoric Over Mortal 
Gagasan tidak bisa di pasung..

Komentar

Postingan Populer