Menguliti Nama MOROM: Ketika Kata Menjadi Raja dan Nyawa Menjadi Residu

 Oleh : Brian Aga 



logo sebelumnya









Banyak yang mengira nama sebuah band metal hanyalah kumpulan huruf yang disusun agar terdengar gahar di atas panggung. Namun bagi kami, MOROM adalah sebuah manifesto. Ia adalah teriakan dari sebuah kegelisahan yang memuncak terhadap realitas sosial dan politik yang kita hirup setiap hari.

MOROM merupakan akronim dari Monarchy of Rhetoric Over Mortal.

Di balik deretan kata tersebut, tersimpan lapisan filosofi yang menjadi fondasi bagi setiap distorsi dan lirik yang kami muntahkan. Berikut adalah bedah mendalam mengenai mengapa nama ini kami pilih untuk mewakili semangat perlawanan kami:

1. Monarchy of Rhetoric (Monarki Retorika)

Kita sedang hidup di era di mana "kebenaran" bukan lagi dicari lewat fakta, melainkan diciptakan melalui untaian kata-kata manis. Inilah yang kami sebut sebagai Monarki Retorika.

Dalam sistem ini, retorika telah naik takhta menjadi penguasa tunggal yang absolut. Para pemegang kuasa—terutama mereka yang terjangkit NPD (Narcissistic Personality Disorder) tingkat dewa—membangun altar kemegahan diri hanya dengan bermodalkan "janji" dan "pencitraan". Mereka merasa paling benar, mengebiri pendapat yang berbeda, dan menciptakan narasi yang menghipnotis massa. Di bawah monarki ini, siapa pun yang menguasai panggung dan mikrofon adalah sang raja, meskipun apa yang diucapkannya hanyalah halusinasi tanpa aksi nyata.

2. Over Mortal (Di Atas Kemanusiaan)

Kata "Mortal" merujuk pada kita semua: manusia biasa, rakyat, nyawa-nyawa yang bernapas namun seringkali dianggap tak berharga. Dalam filosofi MOROM, kata "Over" (di atas) menunjukkan sebuah ironi yang menyakitkan.

Kemanusiaan kini diletakkan di bawah kaki kepentingan retorika. Rakyat tidak lagi dilihat sebagai subjek yang harus disejahterakan, melainkan hanya dianggap sebagai pion di papan nama—angka-angka statistik yang diputarbalikkan demi kepentingan nafsu duniawi para penguasa. Nyawa manusia menjadi murah, sementara "citra" sang pemimpin menjadi segalanya. Mereka membangun surga bagi diri mereka sendiri di atas neraka yang mereka ciptakan untuk rakyatnya.

3. Satir Terhadap "Gangguan Kepribadian" Penguasa

Pemilihan nama MOROM adalah sindiran keras terhadap fenomena kepemimpinan yang bebal dan anti-kritik. Kami melihat bagaimana hukum dipelintir menjadi belati untuk menusuk siapa pun yang mencoba menyuarakan kebenaran. Sorot lampu kamera telah menjadi candu bagi mereka, dan darah rakyat adalah tinta yang digunakan untuk menuliskan nama mereka di batu mati, demi ambisi agar dianggap abadi.

4. Mengapa Kami Memilih Nama Ini?

Kami menggunakan nama MOROM sebagai pengingat abadi bahwa kebenaran tidak boleh menjadi budak dari siapa pun. Nama ini adalah pernyataan sikap bahwa kami menolak untuk memuja altar kepalsuan yang dibangun oleh para narsistik.

Melalui MOROM, kami ingin menyuarakan bahwa narasi yang indah di mulut tidak akan pernah bisa menutupi aksi yang minim empati dan logika yang mati. Kami hadir bukan untuk menghibur, tapi untuk mengarsip setiap retorika yang mencoba menginjak nilai-nilai kemanusiaan.



Sesuai dengan apa yang kami teriakan dalam lagu kami:

"JANGAN BERHARAP AKU MEMUJAMU!!!!!"


Komentar

Postingan Populer