[ARSIP JURNAL] Residu Kebisingan di MALANG
Catatan MOROM di Subdistrict Attack Vol. 2
Arsip Perjalanan: Malang 26 Juli 2026
KOLEKTIF INI TAK AKAN PERNAH MATI
Panggung underground tidak pernah bicara soal seberapa megah tata cahayanya, melainkan seberapa jujur energi yang terlempar di atasnya. Minggu itu, wilayah Blimbing, Kota Malang menjadi titik kumpul energi kolektif yang diinisiasi oleh kawan-kawan Youth Banjararum. Lewat gelaran Subdistrict Attack Vol. 2, sebanyak 15 unit musik berbahaya dari berbagai penjuru berkumpul memuntahkan amunisi.
MOROM mendapat slot tampil pada pukul 15.30 WIB. Tepat setelah jeda azan dan salat Asar
.
Bagi siapa pun yang biasa menginjak panggung gigs, jam pasca-jeda adalah ujian tersendiri. Adrenalin penonton biasanya berada di titik terendah; sebagian masih mencari minum, sebagian duduk santai merokok, dan atmosfer tempat acara sempat mendingin. Namun, tugas kami sore itu jelas: meruntuhkan keheningan dan memicu kembali pemicu amarah yang sempat tertahan.
Begitu instrumen tersambung dan mikrofon berada di genggaman, kami tidak memberi ruang untuk pemanasan.
Setlist & Pembakaran Di Atas Panggung
Sore yang dinaungi cuaca bersahabat itu dibuka dengan "Gangguan Kepribadian". Riff gitar bertubi-tubi dari Beni dan Ian langsung menyambar kawasan Blimbing, disusul dentuman bass Aan dan ketukan drum yang presisi dari Ricki. Dalam hitungan detik, Brian Aga memuntahkan vokal ekstremnya, menghentak kesadaran mereka yang sebelumnya bersantai di sudut-sudut venue.
Garis depan moshpit yang awalnya lengang perlahan merapat. Adrenalin yang sempat turun mendadak bergejolak kembali.
Tanpa membiarkan tempo kendur, kami menyambung gempuran lewat "Narasi Api" dan "Sembilan Delapan"—sebuah lagu yang merawat ingatan atas tragedi sosial dan penderitaan kolektif bangsa ini. Area depan panggung kembali panas; kepala-kepala mulai bergetar, kepalan tangan mengudara, dan energi crowd Malang membuktikan reputasinya.
Pajak palak batal kami bawakan karena waktu tidak memungkinkan, selain sebagai perfomer ,kami juga harus melihat dari sudut pandang sibuknya panitia, so.. kami tetap memilih fleksibel agar acara ini berjalan sesuai harapan panitia, aman dan berkesan sampai selesai
Set diakhiri dengan track tajam kami, "Residu Orde".
Keramahan Malang dan Kolektif Youth Banjararum
Di luar tensi tinggi dan distorsi yang pekat di atas panggung, Malang selalu meninggalkan kesan yang hangat. Apresiasi setinggi-tingginya untuk kawan-kawan kolektif Youth Banjararum beserta seluruh panitia pelaksana. Perhatian, hospitality, dan cara mereka merawat ekosistem musik keras lokal membuat kami merasa sedang bermain di rumah sendiri.
Kolektif seperti inilah yang menjaga napas pergerakan indie/underground tetap berdenyut dan tidak mudah mati ditelan zaman.
Berikutnya: Madiun (23 Agustus 2026)
Catatan dari Malang ini menjadi satu lagi lembaran arsip penting dalam perjalanan MOROM. Namun, perjalanan belum usai dan amunisi kami belum habis.
Garis perlawanan berikutnya telah ditentukan: Madiun.
Kami akan kembali memuntahkan energi ini pada 23 Agustus 2026.
Untuk kawan-kawan di Madiun, siapkan fisik dan mental kalian. Rapatkan barisan, mari lebur bersama dalam satu frekuensi kebisingan yang sama!
Line-Up MOROM - Subdistrict Attack Vol. 2:
Brian Aga – Vocal
Beni – Guitar
Ian – Guitar
Aan – Bass
Ricki – Drums
Sampai jumpa di moshpit berikutnya!






Komentar
Posting Komentar