Di Balik Kemudi Retorika: Personel MOROM

 

Oleh: Admin M.O.R.O.M


MOROM bukan sekadar proyek musik, melainkan sebuah entitas yang digerakkan oleh visi dua orang inti yang sepakat untuk menyuarakan perlawanan melalui distorsi. Berikut adalah profil di balik lahirnya Monarchy of Rhetoric Over Mortal:




















Aan – Founder & Bassist

AAN sebagai otak pelaku dan bassis






































Berdomisili di Madiun, Mas Aan adalah sosok inisiator sekaligus fondasi utama yang mencetuskan lahirnya proyek ini. Sebagai pemegang instrumen bass, ia tidak hanya menjaga ritme di barisan belakang, tetapi juga memegang peran vital dalam menentukan arah kebijakan dan visi artistik band secara keseluruhan. Ide-ide besarnya menjadi kompas yang mengarahkan ke mana narasi MOROM akan berlabuh.

cek profilnya https://www.instagram.com/aaj.3123/




Brian Aga – Vocal

foto diambil di Bandung,
 lokasi yang sama untuk video musik Strangers/Mala






































Berdomisili di Bandung, Brian Aga bertanggung jawab sebagai garis depan pertahanan suara MOROM. Selain mengisi departemen vokal, ia merupakan otak di balik penulisan lirik-lirik tajam—termasuk lagu "Gangguan Kepribadian"—serta penyusun pola vokal (vocal pattern) yang menjadi ciri khas band. Kolaborasi jarak jauh antara Bandung dan Madiun inilah yang membentuk dinamika unik dalam setiap karya kami.

https://www.instagram.com/brianagawijaya/



Additional Players

Dalam setiap produksinya, pergerakan kami juga didukung oleh rekan-rekan musisi yang mengisi  additional player pada instrumen drum, lead guitar, dan rhythm guitar. Kehadiran mereka memberikan dimensi suara yang lebih lebar dan memperkuat daya gempur musik MOROM, baik di dalam studio maupun di atas panggung.
tidak menutup kemunginan akan merekrut sebagai personil tetap.




Jarak Fisik dan Keterbatasan Intensitas Tatap Muka

Kendala paling nyata bagi MOROM adalah jarak geografis antara Mas Aan di Madiun dan Brian Aga di Bandung.

  • Absennya Jam Terbang Studio Bersama
    Band pada umumnya membangun chemistry melalui sesi jamming mingguan di studio. Bagi MOROM, setiap sesi pertemuan fisik harus direncanakan jauh-jauh hari dan memakan biaya transportasi serta waktu yang tidak sedikit.

  • Proses Kreatif yang Terfragmentasi
    Ide-ide spontan yang biasanya muncul saat latihan bersama tidak bisa langsung dieksekusi. Perubahan pada aransemen atau pattern vokal harus melewati proses kirim-terima data digital terlebih dahulu.

Tantangan Sinkronisasi dan Komunikasi Digital

Karena komunikasi utama dilakukan secara daring, ada risiko miskomunikasi dalam menerjemahkan visi artistik.

  • Hambatan Bahasa Teknis
    Menjelaskan "rasa" atau "atmosfer" lagu melalui pesan teks atau panggilan suara seringkali tidak seakurat mendemonstrasikannya langsung dengan instrumen di depan rekan satu band.

  • Ketergantungan pada Teknologi
    Proses kirim file demo, rekaman vokal dari Brian Aga, hingga revisi aransemen dari Mas Aan sangat bergantung pada stabilitas koneksi internet dan kualitas perangkat rekaman masing-masing personel di kota berbeda.

Manajemen Logistik untuk Penampilan Live

Persiapan untuk acara seperti "Caruban Bergerak" memerlukan koordinasi logistik yang lebih rumit dibandingkan band lokal satu kota.


  • Sinkronisasi dengan Additional Player: Karena posisi Drum, Lead Guitar, dan Rhythm diisi oleh additional players, menyatukan jadwal latihan antara dua personel inti yang berbeda kota dengan para pemain pendukung menjadi tantangan manajemen waktu yang berat.

  • Biaya Operasional Tinggi: Setiap kali ada tawaran manggung atau sesi rekaman bareng, MOROM harus memperhitungkan biaya akomodasi dan transportasi lintas provinsi (Jawa Barat ke Jawa Timur atau sebaliknya).

Menjaga Konsistensi Visi di Tengah Kesibukan Terpisah

Masing-masing personel memiliki kehidupan profesional dan lingkungan sosial yang berbeda di Bandung dan Madiun.

  • Perbedaan Frekuensi Lingkungan
    Brian Aga di Bandung mungkin terpapar referensi visual dan musik yang berbeda dengan Mas Aan di Madiun. Menjaga agar kedua frekuensi ini tetap satu jalur dalam identitas Monarchy of Rhetoric Over Mortal membutuhkan kedewasaan visi yang luar biasa.

  • Resiko Penurunan Momentum
    Tanpa adanya pertemuan rutin, semangat untuk menyelesaikan sebuah proyek (seperti EP "Residu Orde") bisa naik-turun. Dibutuhkan disiplin tinggi dari masing-masing personel untuk tetap memprioritaskan jadwal produksi band di tengah kesibukan pribadi di kota masing-masing.

Sisi Positif: Objektivitas dan Eksklusivitas

Meski banyak kendala, jarak ini juga memberikan keuntungan bagi MOROM.

  • Ruang Refleksi
    Jarak memberikan waktu bagi Brian Aga untuk mendalami lirik secara personal tanpa gangguan, dan bagi Mas Aan untuk mematangkan konsep musik secara objektif.

  • Kolaborasi Lintas Budaya
    Pertemuan antara sirkuit metal Bandung yang legendaris dengan semangat musik dari Madiun menciptakan perpaduan rasa yang unik dan tidak dimiliki oleh band yang hanya berputar di satu kota saja.

Dengan segala kerumitan ini, keberhasilan MOROM merilis karya seperti "Gangguan Kepribadian" adalah bukti bahwa kekuatan visi dan teknologi mampu meruntuhkan batasan kilometer.


https://open.spotify.com/track/0ToNeAfqunrKJQKvfOzX1h?si=b026bbc5b3f94f83




Komentar

Postingan Populer