Membakar Jalur Tengah

 Catatan Perjalanan vocalis MOROM Menuju Caruban Bergerak





Ada jarak ratusan kilometer yang membentang dari stasiun dan jalanan aspal Bandung menuju tanah Jawa bagian timur. Bagi sebuah unit musik ekstrem, rute sejauh itu bukan sekadar perjalanan logistik biasa, melainkan sebuah ritual. Ini adalah jurnal pendek tentang bagaimana amunisi bising MOROM melesat membelah jalur tengah, merajut simpul solidaritas yang puncaknya tumpah ruah di Caruban Bergerak.



Rell Kereta, Kopi , dan Bandung sampai Caruban 

Perjalanan dimulai siang menjelang malam  di Bandung. Di dalam gerbong kereta  ekonomi selera rakyat. Rute telah dikunci. Jalur yang membelah Jawa Barat- Jawa Tengah dan berakhir di Ngawi Bagian barat, menjadi saksi bagaimana sisa-sisa kantuk dibasuh oleh kopi hitam  di area stasiun dan angan-angan acak tentang bagaimana musik ekstrem hari ini harus tetap punya taji di akar rumput.

Perjalanan darat selalu punya cara sendiri untuk menguji mental; lelah yang merayap di punggung seketika luruh setiap kali roda berputar melewati batas provinsi.




Jabat Erat di Caruban

Ketika malam jatuh dan roda akhirnya berhenti di area venue, kehangatan langsung terasa. Kami disambut oleh ruang alternatif yang hidup, dirawat secara mandiri, dan dijaga oleh tangan-tangan yang menolak tunduk pada apatisme kota. Pelukan hangat dan jabat erat di balik panggung menjadi bukti nyata bahwa simpul kolektif ini masih sangat kuat.

Caruban Bergerak bukan sekadar panggung hiburan konvensional. Ini adalah sebuah manifesto. Di bawah tenda, dilingkari lampu panggung yang berganti warna dari ungu pekat ke merah membara, MOROM menumpahkan seluruh energinya. Dari dentum pertama kick drum, sayatan distorsi gitar, hingga vokal yang meneriakkan protes di depan mikrofon, moshpit langsung pecah. Keintiman, peluh yang bercampur di lantai dansa, dan kepalan tangan yang mengudara malam itu adalah bahan bakar baru bagi kami untuk terus melahirkan deru perlawanan.




Epilog dan Realita yang Kembali Berputar

Set panggung selesai, bising mereda, namun energi kolektifnya tetap tinggal. Esok paginya, perjalanan ditutup dengan ritual sederhana di warung kopi lokal, menikmati jajanan pasar, sebelum akhirnya bersiap kembali ke rutinitas masing-masing.

Terima kasih untuk Ngawi, Madiun, dan respek setinggi-tingginya untuk seluruh kawan-kawan di Caruban Bergerak yang sudah merapatkan barisan dan saling jaga dari awal hingga akhir agenda. Nyalakan terus apinya, kita akan bertemu lagi di gigs berikutnya! Panjang umur solidaritas! 🖤❤️









Komentar

Postingan Populer