NARASI REPRESI





KETIKA LAYAR LEBIH MENAKUTKAN DARIPADA SENJATA


Ini negara Demokrasi bukan? boleh dong kita berpendapat...



sumber gambar :https://westpapuavoice.ac/politics/pesta-babi-draws-criticism-over-papua-narrative/

Mei 2026 kembali mencatatkan amnesia kolektif dalam sejarah kebebasan kita. Pembubaran paksa pemutaran film dokumenter "Pesta Babi" di Mataram, Ternate, hingga ke ruang-ruang akademik, bukan sekadar urusan "izin" atau "ketertiban." Ini adalah manifestasi dari ketakutan narsistik mereka yang memegang kendali.




sumber gambar:https://bandungbergerak.id/article/detail/1546036370/gugatan-atas-eksploitasi-tanah-papua-dalam-film-pesta-babi

1. Phobia terhadap Kebenaran (The Fragile Authority)

sumber gambar:https://www.cnnindonesia.com/nasional/20260512065435-12-1357669/nobar-film-pesta-babi-berujung-pembubaran-di-sejumlah-daerah

Alasan "kondusivitas" dan "menjaga ketersinggungan" adalah retorika basi yang terus diputar ulang. Mereka alergi terhadap metafora. Mereka gemetar melihat kenyataan deforestasi dan perampasan tanah adat Papua Selatan disingkap dalam durasi 95 menit. Jika sebuah film dokumenter dianggap bisa merusak stabilitas, maka stabilitas yang mereka banggakan sebenarnya hanyalah istana pasir yang rapuh.

2. Residu Orde di Ruang Akademik

https://mediaunram.com/wr-3-pimpin-langsung-pembubaran-nobar-pesta-babi-di-unram/

Sangat ironis ketika universitas—yang seharusnya menjadi kawah candradimuka pemikiran—justru menjadi agen sensor tercepat. Meminta mahasiswa menonton sepakbola daripada film dokumenter investigatif adalah penghinaan terhadap intelektualisme. Ini adalah Residu Orde yang nyata: upaya menjinakkan nalar kritis dengan hiburan murahan agar kita tetap buta terhadap eksploitasi di tanah leluhur.

3. Stigma dan Pelabelan "Provokatif"

Stigma "provokatif" selalu menjadi senjata pamungkas untuk membungkam suara-suara dari pinggiran. Ketika masyarakat adat suku Marind, Awyu, dan Muyu mencoba mempertahankan ruang hidup mereka dari ekspansi proyek strategis nasional, suara mereka dianggap gangguan. Bagi MOROM, yang provokatif bukanlah filmnya, melainkan kebijakan yang meminggirkan manusia demi investasi.

4. Militerisasi Ruang Sipil

Keterlibatan aparat dalam membubarkan diskusi seni dan budaya di ruang publik (seperti di Benteng Oranje, Ternate) menunjukkan bahwa dwi-fungsi mental belum benar-benar mati. Mereka merasa memiliki hak untuk menentukan apa yang boleh dan tidak boleh masuk ke dalam kepala rakyat. Ini adalah bentuk Monarchy of Rhetoric yang ingin kita lawan: sebuah otoritas yang merasa paling benar dalam menafsirkan keamanan.


Sikap MOROM: Kami tidak akan pernah menjadi bagian dari mereka yang memuja stabilitas semu di atas penderitaan orang lain. "Pesta Babi" adalah pengingat bahwa kolonialisme belum usai; ia hanya berganti baju menjadi proyek pembangunan.

Jika layar mereka paksa untuk gelap, maka bising kami akan semakin nyaring. Jangan biarkan mereka mengatur frekuensi berpikirmu.

PENCATATAN SEJARAH SEDANG BERLANGSUNG. JANGAN BERKEDIP.


“Karena residu dari tatanan yang rusak ini hanya bisa dibersihkan dengan keberanian untuk terus melihat, mendengar, dan melawan.”


Komentar

Postingan Populer