Arsip Jurnal MOROM: Madiun Satu Arah #12

 

23 Agustus 2026Catatan Perjalanan & Log Panggung


Perjalanan untuk gigs kali sangat menguji stamina serta komitmen. Rangkaian pergerakan dimulai pada 21 Agustus malam, menembus pekatnya jalur darat dari Bandung menuju rumah di Ngawi. Tiba pada 22 Agustus, tubuh yang letih tak dibiarkan bersantai. Tanpa jeda panjang, fisik langsung diseret menyeberang ke Madiun untuk melahap sesi rehearsal di studio hingga larut malam. Selesai latihan saat hari sudah berganti, kami kembali menepi ke Ngawi untuk mencuri sedikit waktu istirahat.

Hari-H, 23 Agustus 2026. Lapangan Pancasila Ngames, Madiun, sudah memanas sejak pukul 09.00 WIB. Gelaran Madiun Satu Arah #12 menjadi wadah bagi tak kurang dari 25 band underground yang bergantian membakar panggung hingga pukul 23.00 WIB. MOROM bergerak dari Ngawi pukul 13.00 WIB, melintas menuju lokasi untuk bersiap mengambil alih panggung tepat pukul 15.55 WIB.


Begitu deru distorsi awal membahana, 5 rentetan trek murni tanpa kompromi melibas moshpit:

  • Intro

  • Gangguan Kepribadian

  • Narasi Api

  • Residu Orde

  • Pajak Palak

Sebagai vokalis, panggung adalah mimbar perlawanan tempat amarah kolektif . Di tengah kepulan debu dan determinasi massa, pesan ditegaskan secara langsung dari atas panggung: Sahkan RUU Perampasan Aset dan Hukum Mati Koruptor. Lirik-lirik yang kami bawakan adalah cerminan dari rasa muak terhadap korupsi, keserakahan, dan sistem yang terus menggerogoti kebebasan.


Jurnal ini ditulis sebagai arsip tak terpisahkan dari rekam jejak MOROM dari panggung ke panggung. Titik berikutnya telah terkunci pada 4 Oktober 2026 di Ngawi.


Bagi saya pribadi, pertunjukan di Ngawi mendatang akan menjadi momen yang sangat emosional. Setelah puluhan tahun tidak pernah berdiri di atas panggung tanah kelahiran sendiri, akhirnya saya kembali untuk berteriak di tanah tempat saya tumbuh.

Sampai jumpa di titik api berikutnya. Barisan amarah tak akan pernah padam!

Komentar

Postingan Populer