ISU KORUPSI BADAN GIZI NASIONAL

 




Ketika Isi Perut Rakyat Dijadikan Komoditas Elit

Satu lagi bukti nyata bahwa negeri ini tidak pernah benar-benar sembuh dari penyakit akutnya: keserakahan. Baru-baru ini, publik dikejutkan dengan pencopotan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) di tengah menguatnya isu dugaan korupsi dan praktik jual beli titik dapur SPPG. Program yang digembar-gemborkan untuk memperbaiki kualitas hidup dan gizi generasi masa depan, dalam sekejap bertransformasi menjadi ladang bisnis haram para pemburu rente.

Ini bukan sekadar masalah salah urus organisasi atau ketidakdisiplinan SOP. Ini adalah pengkhianatan sistemik. Ketika anggaran triliunan rupiah yang bersumber dari keringat rakyat mulai dialokasikan, para predator politik, jaringan militer, hingga kepolisian langsung pasang badan untuk menguasai proyek. Temuan dari ICW bahkan memperlihatkan bagaimana titik-titik dapur ini dikelola dan diperebutkan oleh anggota DPR dan DPRD.

Apakah mereka peduli dengan gizi anak-anak di daerah pelosok atau kawasan 3T? Persetan dengan itu semua. Bagi mereka, piring nasi rakyat hanyalah angka-angka di atas kertas kontrak proyek yang bisa disunat demi mempertebal kantong pribadi. Kasus keracunan makanan yang berulang dan celah korupsi yang menganga adalah bukti bahwa manusia-manusia di lingkaran kekuasaan hari ini masih memakai mentalitas yang sama dengan penguasa masa lalu.

Pergantian pimpinan di tubuh BGN dari Dadan Hindayana ke Nani S. Deyang hanyalah rotasi kosmetik untuk meredam amarah publik. Pertanyaannya: sejauh mana figur baru ini punya posisi tawar di hadapan gurita kepentingan partai politik dan aparat yang telanjur mencengkeram proyek ini? Jika sistemnya sudah korup dari akar, mengganti kepala tidak akan mengubah rasa busuk di dalamnya.

Bagi kita, MOROM, fenomena ini adalah refleksi nyata dari apa yang selalu kita suarakan. Ini adalah Residu Orde yang enggan mati—sebuah narasi api yang terus membakar hak-hak dasar manusia jelata. Kita dipaksa menelan janji-janji manis, sementara mereka kenyang memakan uang hasil kongkalikong.

Selama panggung kekuasaan masih diisi oleh para makelar proyek, maka kesejahteraan rakyat akan selalu berakhir menjadi sekadar mitos. Jangan diam, terus awasi, dan lipat gandakan kemarahan lewat karya!




Komentar

Postingan Populer